|
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Kajian
Teori
1.
Hakikat
Guru Pendidikan Jasmani dan Dosen
Fakultas Ilmu Keolahragaan
a.
Hakikat
Guru Pendidikan Jasmani
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional pasal 39 ayat 2 menyebutkan bahwa “ Guru
adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai pembelajaran”.
|
Agus Mahendra (2003: 19)
menyatakan “Pendidikan Jasmani adalah proses
pendidikan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih
untuk mencapai tujuan pendidikan”. Terminologi yang populer, Husdarta (2011: 9)
juga menyatakan “Tujuan pembelajaran Pendidikan Jasmani itu harus mencakup
tujuan dalam domain psikomotorik, domain kognitif, dan tidak kalah pentingnya
dalam domain afektif”.
Seperti kegiatan pendidikan lainnya,
pendidikan jasmani direncanakan sedemikian rupa untuk mencapai perkembangan
total dari peserta didik yang mencakup bukan saja perkembangan fisik,
intelegensi, emosi dan sosial, akan tetapi aspek moral dan spiritual, karena
didalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan sangat memperhatikan
landasan-landasan kesehatan dan kematangan.
Giriwijoyo
dan Dikdik (2012: 34) mengemukakan “Pendidikan jasmani adalah pendidikan dengan
menggunakan media kegiatan jasmani, yang sasarannya adalah pembentukan karakter
siswa, yaitu membentuk siswa yang cerdas, sopan santun dan rendah hati, dan
memahami dimana letak batas harga diri”.
Adapun kemampuan
yang harus dimiliki untuk menunjang terhadap pelaksanaan lancarnya profesi guru
pendidikan jasmani agar diterima penyelenggara dunia pendidikan formal dan masyarakat
menurut Sunaryo Kartadiata (2004: 22) antara lain; (1) Latar Belakang Pendidikan
Untuk mempunyai kemampuan intelektual, guru pendidkan jasmani yang sukses latar
belakang pendidikan yang solid lebih dari sekedar mempunyai persiapan yang
bagus dalam praktek umumnya. Latar belakang pendidikan guru dan inteleknya
berhubungan erat dengan kualitas selanjutnya. (2) Kesehatan dan Keterampilan
Fisik, Guru pendidikan jasmani yang sukses harus sehat untuk mampu mengajar
yang baik. Pada bidang pendidikan fisik (keterampilan fisik).
Di dalam
pendidikan fisik, seorang guru pendidikan jasmani harus mempunyai kombinasi
yang baik dalam koordinasi kefleksibelan, kekuatan, dan kecepatan. Seorang guru
pendidikan Jasmani harus terampil dalam menunjukkan aktivitas yang diajarkan
seperti; guru harus mendemonstrasikan keterampilannya pada berbagai kasus dan
guru mempunyai pemahaman yang lebih bagus tentang unsur-unsur keterampilan dan
masalah yang mungkin ditemukan oleh siswa dalam mempelajari keterampilan.
Siedentop (1991: 51) menyimpulkan “Guru Pendidikan
Jasmani merupakan guru yang di tuntut mampu memberikan pendidikan jasmani yang
aman dan membimbing siswa dengan cara memberikan ilmu pengetahuan dan pemahaman
yang sesuai dalam konteks mengajar
pendidikan jasmani”.
Sukintaka
(1992: 19) secara khusus mengemukakan “Delapan syarat yang harus dimiliki agar
dapat melakukan tugasnya dengan baik. Delapan syarat guru pendidikan jasmani
adalah sebagai berikut: (1) memahami pengetahuan pendidikan jasmani, (2)
memahami karakteristik anak, (3) mampu membangkitkan dan memberikan kesempatan
pada anak untuk berkreasi, aktif dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani,
(4)mampu memberikan bimbingan pada anak dalam pembelajaran agar mencapai tujuan
pendidikan jasmani, (5) mampu merencanakan, melaksanakan, mengendalikan,
menilai dan mengorganisasikan proses pembelajaran pendidikan jasmani, (6)
memiliki pendidikan dan penguasaan keterampilan gerak yangmemadai, (7) memiliki
pemahaman tentang unsur kondisi jasmani, dan (8) memiliki kemampuan untuk
menciptakan dan mengembangkan serta memanfaatkan lingkungan yang sehat dalam
upaya mencapai tujuan pendidikan jasmani”.
Menurut
Husdarta (2011: 64) “Seorang guru, termasuk guru pendidikan jasmani,
menyerahkan diri dan keseluruhan hidupnya, semata-mata karena didorong oleh
itikad untuk membantu mengembangkan potensi peserta didik”. Pendidikan jasmani
berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya
terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang
dipilih hanyalah alat untuk mendidik.
Pendidikan
jasmani sangat ideal dalam membuat kontribusi yang penting bagi
pengembangan keterampilan diri dari mereka yang telah terpenuhi melalui sosok guru pendidikan jasmani yang berkualitas. Seperti aspek-aspek
lain dari kurikulum
bidang studi lain, bagaimanapun, tidak hanya untuk mengetahui tetapi harus
menyerap progresif seperti yang direncanakan dalam pembelajaran terhadap seluruh
siswa.
Hal
ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan
keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan
sosial siswa.
Capel dkk (2006: 40)
mengemukakan “Untuk merencanakan kurikulum pendidikan jasmani secara efektif
perlu memahami mekanisme perencanaan pada tiga tingkatan yang berbeda:
perencanaan dalam jangka panjang (Schemes
work), perencanaan dalam jangka menengah (Units of work), dan perencanaan dalam jangka pendek (Lesson plans)”.
Dengan
kata lain, guru pendidikan jasmani harus mampu memperlakukan anak sebagai
kesatuan utuh , makhluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seorang
yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Seorang guru Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang profesional dalam menjalankan tugas
profesinya sebagai tenaga pengajar harus memperhatikan tiga hal penting antara
lain: (1) Menyusun persiapan mengajar, (2) melaksanakan pembelajaran sesuai dengan
rencana, dan (3) melakukan asesmen terhadap keberhasilan pelaksanaan
pembelajaran. Asesmen merupakan salah satu bagian penting yang harus dilakukan
guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Asesmen
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengetahui seberapa
jauh kemampuan yang diterima siswa setelah kegiatan pembelajaran (Winarno, 2010: 6-7).
1)
Kompetensi guru pendidikan jasmani
Profesi guru adalah sebuah pernyataan bahwa
seseorang melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu guru
sebagai profesi punya tanggung jawab yang multidimensional. Atas dasar tanggung
jawab itu maka tingkat komitmen dan
kepedulian terhadap tugas pokok harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,
tanggung jawab dalam mengajar, membimbing, dan melatih mereka yang
dipertanggung jawabkan.
Dalam
melaksanakan tugas sehari-hari disekolah, antara guru pendidikan jasmani dan
guru bidang studi yang lain membutuhkan kompetensi (kemampuan) dasar yang
hampir sama. Sementara itu,
dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan
empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan
Pemerintah No 74 Tahun 2008 pasal 3 ayat 2 tentang kompetensi guru, yaitu :
a. Kompetensi pedagogik
Yaitu merupakan
kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (1) pemahaman wawasan
atau landasan kependidikan; (2) pemahaman terhadap peserta didik; (3) pengembangan
kurikulum/ silabus; (4) perancangan pembelajaran; (5) pelaksanaan pembelajaran yang
mendidik dan dialogis; (6)evaluasi hasil belajar; dan (7) pengembangan peserta
didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
b. Kompetensi profesional
Merupakan kemampuan
penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (1)
konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren
dengan materi ajar; (2) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (3)
hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (4) penerapan konsep-konsep
keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (5) kompetisi secara profesional
dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.
c. Kompetensi kepribadian
Yaitu merupakan
kemampuan kepribadian yang: (1) mantap; (2) stabil; (3) dewasa; (4) arif dan
bijaksana; (5) berwibawa; (6) berakhlak mulia; (7) menjadi teladan bagi peserta
didik dan masyarakat; (8) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (9) mengembangkan
diri secara berkelanjutan.
d. Kompetensi sosial
Yaitu merupakan
kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (1) berkomunikasi
lisan dan tulisan; (2) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara
fungsional; (3) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik,
tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (4) bergaul secara santun
dengan masyarakat sekitar.
Menurut Husdarta
(2011: 65) dijelaskan ”Kompetensi guru Pendidikan Jasmani antara
lain; (1) penghayatan tentang landasan
falsafah profesi dan sikap sebagai professional, (2) kemampuan menerapkan
prinsip dan teori yang tersumber dari ilmu keolahragaan ke dalam praktik
pembinaan,(3) kemampuan dalam cabang olahraga atau pemahaman tentang tugas
gerak,(4) pengelolaan proses belajar dan mengajar, (5) keterampilan sosial,
termasuk kepemimpinan”.
2) Peran guru
pendidikan jasmani dalam pembelajaran
Menurut Giriwijoyo dan Dikdik (2012: 36)
“Olahraga, khususnya di lembaga kependidikan/sekolah, perlu secara terus
menerus digalakkan kembali dengan menekankan konsep olahraga kesehatan sebagai
pokok pemikiran dan penyajiannya”.
Untuk
dapat manjalankan proses pembelajaran Pendidikan Jasmani sebagaimana diuraikan
di atas secara lebih baik, maka seorang guru harus mampu memerankan fungsi
mengajar pada saat menjalankan pembelajarannya. Fungsi mengajar adalah fungsi
guru dalam proses belajar mengajar. Penggunaan istilah ini ditujukan agar guru
terfokus pada tujuan perilaku yang ditampilkannya pada saat mengajar daripada
hanya sekedar terfokus pada perilaku mengajarnya itu sendiri.
Meskipun setiap guru memiliki cara
pendekatan pribadi mereka sendiri untuk sekolah
dan dalam Proses pembelajaran, mereka juga
harus memperhitungkan, sesuai
dengan kebijakan sekolah, misalnya
pada pengelolaan perilaku di dalam kelas. Ini bervariasi antara sekolah
yang satu dengan sekolah yang lain.
Oleh karena itu penting bahwa Anda mengembangkan pemahaman dan strategi perencanaan
pembelajaran sendiri, namun dapat
memodifikasinya sesuai dengan harapan dari sekolah-sekolah di mana Anda
mengajar (Capel dan Lawrence, 2006: 96).
Siedentop
(1991: 36) mengemukakan tiga fungsi utama guru pada saat melakukan pembelajaran
sebagai berikut, “Three major functions occupy most of the attention of
physical educators as they teach: managing students, directing and instructing
students, and monitoring/supervising students”.
Managing
students merujuk pada perilaku verbal maupun
nonverbal yang ditampilkan guru untuk tujuan mengorganisir, merubah aktivitas
belajar, mengarahkan formasi atau peralatan, memelihara rutinitas baik yang
bersifat akademis maupun non akademis termasuk pengelolaan waktu transisi. Directing
and instructing students meliputi demonstrasi, eksplanasi, feedback kelompok,
dan kegiatan penutup. Monitoring merujuk pada perilaku observasi guru
terhadap siswa secara pasif, sedangkan supervising merujuk pada perilaku
guru yang ditujukan untuk memlihara siswa tetap aktif belajar seperti
mengarahkan, mengingatkan, dan memberikan feedback perilaku sosial (behavioral
interactions) maupun penampilan belajar siswa (skill interactions).
Sementara itu, Rink (1993:15) menjelaskan
“Fungsi guru dalam proses belajar mengajar secara lebih rinci lagi ke dalam
tujuh kegiatan sebagai berikut, “Identifying outcomes, planning, presenting
tasks, organizing and managing the learning environment, monitoring the
learning environment, developing the content, and evaluating”.
Walaupun
kedua pendapat ahli tersebut berbeda, namun keduanya sama-sama merujuk pada
esensi dari proses pembelajaran Pendidikan Jasmani. Pendapat pertama lebih
menekankan pada fungsi pokok proses pembelajaran, yaitu pada saat menjalankan
siklus Movement Task-Student Response to Task hingga fungsi lainnya
seperti persiapan mengajar tidak termasuk di dalamnya. Sedangkan pendapat yang
kedua lebih bersifat menyeluruh mulai dari kegiatan persiapan (identifikasi
hasil belajar dan perencanaan) hingga evaluasi terhadap proses pembelajaran.
Perbedaan ini masuk akal mengingat siklus Movement Task-Student Response to
Task merupakan bagian kritis dari proses pembelajaran sehingga fungsi
mengajar termasuk keterampilan mengajar (teaching skills) yang pokok
seringkali dikaitkan dengan peristiwa siklus ini.
Lutan
(1991: 383) menjelaskan “Pengajaran adalah suatu aktivitas yang kompleks.
Tujuan yang utama ialah agar terjadi aktivitas belajar pada siswa”. Jika
berbicara tentang pengelolaan kelas dalam pembelajaran pendidikan jasmani, maka
yang dibahas bukan hanya kelas yang dibatasi oleh dinding-dinding, tetapi juga
kelas dalam bentuk lapangan-lapangan olahraga .
Durasi
yang digunakan dalam pelaksanaan olahraga kesehatan cukup 10-30 menit, maka
hakikat melakukan olahraga kesehatan adalah memenuhi kebutuhan hidup bukannya
membuang-buang waktu.
a) Guru pendidikan jasmani sekolah dasar (SD)
Menurut
Soegijono (2003:33) dikatakan “Peranan pendidikan jasmani dan olahraga di SD
sebagai landasan pembinaan dan pengembangan keolahragaan nasional”. Guru
pendidikan jasmani SD harus mampu menyesuaikan kebutuhan siswa sesuai usia.
Menurut
Watson (dalam Giriwijoyo dan Dikdik, 2012: 86) “Anak rentangan biologis mereka
berkisar 6 tahun. Misalnya pada anak umur 10 tahun, kemampuan biologiknya
berkisar antara kemampuan biologi anak umur 7 (tujuh) tahun sampai dengan
kemampuan biologi anak umur 13 tahun”. Siswa SD merupakan satu jenjang
pendidikan yang paling penting, sehingga peningkatan mutu pendidikan harus
dimulai dari sini.
Salah
satu butir Strategi Depdiknas (2001:22) berbunyi; “Melalui pendidikan di SD
anak didik dibekali kemampuan dasar dan keterampilan dasar agar mampu
mengantisipasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk keterampilan
olahraga serta keterampilan hidup lainnya (life skill).
Lima
komponen penentu mutu proses belajar di SD: (1) profesionalisme guru, (2)
manejemen pendidikan yang efektif dan efisien, (3) buku dan sarana belajar yang
memadai dan selalu dalam kondisi siap pakai, (4) fisik dan penampilan sekolah,
dan (5) partisipasi aktif masyarakat.
Puskur Balitbang
(2001:45) menyatakan; “Beberapa usulan strategi pemecahan masalah, sesuai isu
yang muncul, yaitu; (1) nama mata pelajaran penjas dan olahraga, (2) status
yang jelas pelajaran ekstra kurikuler, (3) guru pengajar penjas dengan
kualifikasi tertentu, (4) persyaratan minimal guru kelas pengajar penjas, (5)
standar fasilitas minimal, (6) peningkatan mutu guru penjas melalui in
service training, (7) pengawasan pelaksanaan pengajaran penjas, (8)
indikator keberhasilan pembelajaran penjas, (9) pengadaan, pengangkatan dan
pembinaan guru penjas”.
b) Guru pendidikan jasmani sekolah menengah pertama
(SMP)
Di
sekolah menengah pertama, terhadap siswa dinyatakan bahwa
pendidikan jasmani harus berkenan dengan perbaikan kesegaran jasmani dan
kesehatan. Mereka dinyatakan ingin mempelajari keterampilan baru
dan bemacam olahraga. Meraka juga menyatakan bahwa pendidikan jasmani
harus lebih berbuat banyak dari pada hanya mengembangkan tubuh, ia harus juga
mengembangkan pikiran dan juga mempersiapkan siswa untuk pekerjaan di masa akan
datang.
Dalam
hal ini Watson (dalam Giriwijoyo dan Dikdik (2012: 90) mengemukakan “Sampai
usia sekitar 14 tahun (usia pubertas) tidak perlu ada pemisahan siswa atas
dasar jenis kelamin”.
Badan
Standar Nasional Pendidikan (2006: 513) dinyatakan “Ruang lingkup mata
pelajaran pendidikan jasmani pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP)
meliputi: permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan,aktivitas
senam,aktivitas ritmik, aktivitas air, pendidikan luar kelas,dan kesehatan”.
Guru
Pendidikan jasmani mampu mengarhkan siswa memandang pendidikan jasmani
sebagai tempat belajar fairplay dan
sportivitas.Mereka juga menekankan bahwa mereka ingin mempelajari aktivitas
yang nanti di perlukan dalam waktu senggang.Sebagian besar dari mereka
menyatakankeinginan bermain dalam satu tim.
c) Guru pendidikan jasmani sekolah menengah atas
(SMA)
Di
sekolah menengah atas ditekankan bahwa kegiatan jasmani penting, karena ia
dapat memperbaiki tingkat kesegaran jasmanikesehatan. Dinyatakan bahwa peserta
didik ingin mempelajari banyak keterampilan yang di perlukan dalam
berbagai cabang olahraga. Peserta didik juga ingin berpartisipasi dalam
aktivitas yang akan bermanfaat bagi dirinya dalam penggunaan waktu senggang.
Siswa sekolah menengah ini memandang kelas pendidikan jasmani sebagai suatu
tempat untuk belajar menghargai teman lain. Peserta didik juga dinyatakan dengan
program pendidikan jasmani memeberikan mereka suatu perubahan irama
dari pelajaran akademik.
b.
Hakikat
dan Peran Dosen
Fakultas Ilmu Keolahragaan
1) Hakikat dosen fakultas ilmu keolahragaan
(FIK)
Menurut PP No.37 tahun 2009 pasal 1
ayat 1, “Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama
mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada
masyarakat”. Menurut Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI,2008: 51) “dosen di
artikan sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi”.
Profesi dosen merupakan bidang
pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:
- Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.
- Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
- Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas.
- Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.
- Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.
- Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.
- Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.
- Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
Menurut Agus Kristiyanto (2012:163) ”Penataan sistem sebenarnya bukan merupakan tujuan harfiah,
karena pencapaian keberhasilan perguruan tinggi tidak menggunakan system penataan
sebagai indikatornya”. Indikator keberhasilan perguruan tinggi tergantung pada out put yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
dan pembangunan, out put tersebut
kualitasnya sangat dipengaruhi oleh sistem penataan yang digunakan.
Hal tesebut dilandasi
teori yang dikemukakan Agus Kristiyanto (2012:163) “Perguruan Tinggi
Keolahragaan sebagai suatu institusi formal, didalam mengorganisasikan kerja
yang kreatif, produktif, dan professional, tidak dapat berkembang melalui pola
kerja yang terstruktur secara kaku”.
Sistem pendidikan guru pendidikan jasmani
di Indonesia telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pengadaan guru
pendidikan jasmani dimulai sejak tahun 1950, diatur melalui Undang-Undang No.4
tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di sekolah untuk
seluruh Indonesia. Pendidikan jasmani di Sekolah Rakyat (SR) pada mulanya
diajar atau diampu oleh guru kelas yang dihasilkan melalui Sekolah Guru Bawah
(SGB). Guru pendidikan jasmani sebagai guru bidang studi mula-mula dihasilkan
melalui Sekolah Guru Pendidikan Djasmani (SGPD) yang lulusannya pada umumnya
ditugaskan mengajar di Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMTP) disamping sebagian
ditugaskan di SR. Pada tahun 1961, SGPD diubah menjadi Sekolah Menengah Olahraga
Atas (SMOA), selanjutnya pada tahun 1979 diubah lagi menjadi Sekolah Guru Olahraga
(SGO). Kemudian berkembang Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP)
bidang pendidikan jasmani, untuk memenuhi kebutuhan Guru Pendidikan Jasmani di
SMTP. Guru pendidikan jasmani SMTA dihasilkan melalui Kursus B1 dan B2 Pendidikan
Jasmani. Selanjutnya berkembang Akademi Pendidikan Djasmani (APD) dan kemudian
menjadi Fakultas Pendidikan Djasmani (FPD) sebagai penghasil guru pendidikan
jasmani SMTA. Dengari dibentuknya Departemen Olahraga pada 1961, FPD yang
semula berada di bawah tanggung jawab Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dialihkan
ke Departemen Olahraga dan berubah menjadi Sekolah Tinggi Olahraga (STO).
STO kemudian berubah menjadi Jurusan
Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (JPOK
FKIP) Universitas atau menjadi Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIK IKIP) pada tahun 1977. Dengan berlakunya
Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terbit Surat
Keputusan Mendikbud No.085410/1989 yang mengintegrasikan SGO ke institusi IKIP,
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) atau FKIP. FKIK IKIP
selanjutnya berubah menjadi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK)
IKIP dan akhirnya menjadi Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas seiring
dengan perubahan status IKIP menjadi universitas. Lembaga-lembaga itulah yang
pada saat ini berperan sebagai penghasil tenaga guru pendidikan jasmani baik di
SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi, melalui jenjang pendidikan Progra Diploma
II, Diploma III, dan Program Strata 1 Pendidikan Jasmani (Dirjen Dikti, 2004:13).
Fakultas Ilmu
Keolahragaan (FIK) adalah salah satu lembaga pendidikan tinggi yang
berkemampuan untuk dapat mengembangkan IPTEK di bidang Pendidikan Jasmani, Kepelatihan
Olahraga dan Ilmu Keolahragaan.
Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), di Perguruan Tinggi yang ada Kota Medan memiliki
tiga jurusan keilmuan yaitu: (1) Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
(PJKR), (2) Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) dan (3) Ilmu Keolahragaan
(IKOR). jurusan PJKR mengkaji tentang pendidikan jasmani di sekolah. Jurusan
PKO memfokuskan diri pada kepelatihan olahraga, sedangkan Ilmu Keolahragaan
(IKOR) menitik beratkan kajian keilmuan olahraga pada bidang terapi, adaptif
dan kebugaran jasmani. Walaupun terdapat perbedaan fokus antara ketiga jurusan
tersebut, semua mahasiswa pada ketiga jurusan tersebut harus memiliki
dasar-dasar pemahaman tentang aspek biologis, psikologis dan interaksi sosial
manusia, yang merupakan objek dari ilmunya.
Dosen FIK wajib
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani
dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan
tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.
Tugas
dosen FIK sering melibatkan komitmen
yang berdasarkan beberapa kategori
dibawah peran umum administrator, guru, guru pribadi, peneliti, dan
konsultan (Hughes,2010:4). Di Perguruan
Tinggi, Mahasiswa ditekankan
pentingnya pendidikan jasmani dalam perkembangan neuromuskuler dan
efisiensi kardiovaskuler. Mereka juga menyatakan bahwa pendidikan jasmani memberi
kesempatan bagi mental untuk refleks dari kegiatan akademik danmemperkenalkan
kepada mereka berbagai aktivitas yang terbukti berguna dalam pemanfaatan
waktu senggang. Mahasiswa memandang pendidikan jasmani sebagai sumbangan
bagi perkembangan mental jasmani, sosial dan psikologis.
Menurut UU No.14 tahun 2005 pasal 3,
Dosen
harus memiliki kualifikasi akademik yang diperoleh melalui pendidikan tinggi
program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian, minimum:
1.Lulusan program magister untuk
program diploma atau program sarjana.
2.Lulusan program doktor untuk program
pascasarjana.
Dari penjabaran mengenai arti dan
makna dosen di atas maka dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) merupaka dosen
yang memiliki kualifikasi akademik keilmuan Keolahragaan, kompetensi,
sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain
yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi yang meliliki Fakultas Ilmu
Keolahragaan (FIK), serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.
2) Peran
dosen
fakultas ilmu keolahragaan (FIK)
Dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik di perguruan tinggi
berdasarkan visi misi yang ada di perguruan tinggi tersebut,oleh karena itu
dapat di katakan peran dosen FIK diKota Medan adalah :
|
a) Mewujudkan fakultas ilmu keolahragaan yang unggul dalam
bidang
Pendidikan dan Ilmu
Keolahragaan.
Bbb) Menyelenggarakan pendidikan,
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
c)
Menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan
sasrjana yang berkualitas
dan profesional di bidang pendidikan jasmani,
kepelatihan dan
ilmu keolahragaan.
d)
Menyelenggarakan FIK sebagai pusat penelitian ilmu keolahragaan.
e)
Menyelenggarakan FIK sebagai pusat kajian prestasi olahraga
wilayah Sumatera.
Serta dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) sebagai
tenaga pendidik
juga
memiliki tujuan antara lain :
a) Mengembangkan pendidikan jasmani, kepelatihan dan ilmu keolahragaan sebagai dasar dalam
penyelenggaraan pendidikan penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
b) Menghasilkan lulusan yang
unggul dan profesional dalam pendidikanjasmani, kepelatihan dan ilmu
keolahragaan.
c) Menerapkan dan mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
bidang olahraga.
|
2.
Referensi
Kata referensi berasal dari inggris reference dan merupakan kata kerja to refer yang artinya menunjukan kepada.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008: 302) “Referensi
merupakan sumber acuan dan dapat di artikan sebagai buku-buku yang di anjurkan
oleh dosen kepada mahasiswa untuk dibaca”. Pelayanan referensi adalah pelayanan
dalam menggunakan buku-buku referensi. Di perpustakaan biasanya buku-buku
referensi di kumpulkan tersendiri dan di sebut “koleksi referensi” sedangkan
ruang tempat penyimpanan disebut ruang referensi. Buku-buku referensi yang
karena sifatnya sebagai buku penunjuk, harus selalu tersedia di perpustakaan
sehingga dapat di pakai oleh setiap orang pada setiap saat. Bagi peneliti
pemula, seperti mahasiswa,penelusuran dan penelaahan referensi menjadi
sesuatuyang urgen terutama terkait dengan bagaimana belajarmengungkapan buah
pikiran secara sistematis, kritis, dan ekonomis. Tidak harus selulruh halaman
buku atau jurnal penelitian yang dibaca secara tuntas, karena tentu membutuhkan
waktu yang panjang.
Studi referensi dilakukan dengan
membaca buku-buku teks, jurnal penelitian, skripsi, tesis, disertasi, makalah
seminar, maupun artikel dari internet. Melalui kajian pustaka, peneliti dapat
mempertajam masalah penelitian, menyusun pertanyaan dan hipotesis penelitian,
serta dapat membuat alat ukur dan atau alat pengumpul data.
Ada beberapa jenis referensi yang
dapat di gunakan untuk mempertajam pengkajian suatu teori dan pemahaman suatu
masalah, antara lain :
a.
Buku
Pengertian tentang buku menurut
Magetsari (1992:63) “Buku dapat didefinisikan terbitan tidak berseri yang
terdiri atas minimal 49 halaman sampul”. Buku yang terbuat dari kertas baru ada
setelah Cina berhasil menciptakan kertas pada tahun 200-an SM dari bahan dasar
bambu di ditemukan oleh Tsai Lun.Kertas membawa banyak perubahan
pada dunia. Pedagang muslim membawa teknologi penciptaan kertas dari Cina ke
Eropa pada awal abad 11 Masehi. Disinilah industri kertas bertambah
maju.Apalagi dengan diciptakannya mesin cetak oleh Gutenberg perkambangan dan penyebaran buku
mengalami revolusi.Ada berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku.Buku
pertama disebutkan lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang
Mesir menciptakan kertas papirus. Kertas papirus yang berisi tulisan
ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama.Ada pula
yang mengatakan buku sudah ada sejak zaman Sang Budha di Kamboja karena pada
saat itu Sang Budha menuliskan wahyunya di atas daun dan kemudian membacanya
berulang-ulang.Berabad-abad kemudian di Cina, para cendekiawan menuliskan
ilmu-ilmunya di atas lidi yang diikatkan menjadi satu.Hal tersebut memengaruhi
sistem penulisan di Cina di mana huruf-huruf Cina dituliskan secara vertikal
yaitu dari atas ke bawah.Kertas yang ringan dan dapat bertahan lama dikumpulkan
menjadi satu dan terciptalah buku.
Berikut ini adalah jenis jenis buku
yang dirangkum sebagai referensi dalam dunia keolahragaan :
1) Buku teks/text book
Menurut Yusuf (2005: 10) menjelaskan “Buku teks adalah buku tentang satu
bidang ilmu tertulis yang tertulis berdasarkan sistematika dan organisasi
tertentu sehingga memudahkan proses pembelajarannya baik oleh guru maupun
murid”.
Di dalamnya buku ini termuat begitu
banyak ilmu yang dapat diketahui oleh manusia sehingga tidaklah berlebihan
rasanya ketika ada sebagian orang mengatakan Buku adalah gudang ilmu. Dalam
penyampaian informasi kepada orang lain, buku ditulis dengan berbagai
struktur.. Buku teks memainkan peran utama dalam pengajaran bahasa di kelas
pada semua jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta, sekolah menengah
maupun perguruan tinggi, di seluruh dunia. Beberapa guru dapat keleluasaan
untuk memilih buku teks yang akan mereka gunakan (Lamie,1999: 56). Hampir
setiap guru, jika tidak semua, mempunyai buku teks baik karena disarankan
kepada mereka maupun karena keperluan mereka dalam dunia pengajaran. Mengapa
guru menggunakan buku teks, dan apa fungsinya?
Alasan lain bagi penggunaan buku
teks sebagai berikut:
1) Buku teks merupakan kerangka kerja
yang mengatur dan menjadwalkan waktu kegiatan program pengajaran.
2) Di pandangan siswa, tidak ada buku
teks berarti tidak ada tujuan.
3) tanpa buku teks, siswa mengira bahwa
mereka tidak ditangani secara serius.
4) Dalam banyak situasi, buku teks
dapat berperan sebagai silabus.
5) Buku teks menyediakan teks
pengajaran dan tugas pembelajaran yang siap pakai.
6) Buku teks merupakan cara yang paling
mudah untuk menyediakan bahan pembelajaran.
7) Siswa tidak mempunyai fokus yang
jelas tanpa adanya buku teks danketergantungan pada guru menjadi tinggi.
8) Bagi guru baru yang kurang
berpengalaman, buku teks berarti keamanan,petunjuk dan bantuan (Ansary, 2002: 3).
2)
Buku diktat
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008:
292) didefinisikan “Diktat adalah buku pelajaran yang disusun guru dalam bentuk
stensilan”. Buku ini hampir sama dengan Teks
Book. Bedanya buku ini dimonopoli oleh kalangan guru dan dosen sebagai
penulisnya.Buku
Diktat ini erat hubunganya dengan materi pembelajaran bagi pelajar
maupun mahasiswa. Dan untuk isinya tidak sembarangan kerena mengaju kepada
aturan kurikulum yang menjadi standar dinas pendidikan. Kebanyakan Buku Diktat
diterbitkan dalam jumlah yang cukup banyak dan melalui tender kerena akan
dibagikan kepada sekolah sekolah serta perpustakaan milik sekolah.
Buku diktat sebagai bahan referensi dapat dipakai dosen,
antara lain untuk:
a. Memperjelas informasi atau pesan
pengajaran;
b. Memberi tekanan pada bagian-bagian
yang penting;
c. Memberi variasi pengajaran;
d. Memperjelas struktur pengajaran;
dan
e. Memotivasi proses belajar
mahasiswa.
Bagi mahasiswa, bila media digunakan
dengan tepat maka manfaatnya dapat dirasakan karena dapat :
a. Meningkatkan motivasi belajar
mahasiswa;
b. Memberikan variasi belajar;
c. Memberikan struktur yang
memudahkan belajar;
d. Menyajikan inti informasi
belajar;
e. Memberikan sistematika belajar;
f. Menampilkan contoh yang selektif;
g. Memberikan situasi belajar yang
kurang bersifat formal.
Media pengajaran (termasuk juga
modul) bukan saja memberikan manfaat pada mahasiswa tetapi juga pada dosen.
Manfaat bagi dosen, di antaranya karena media pengajaran bila digunakan dengan
baik dan benar, dapat :
a. Memberikan pedoman arah dan tujuan
pengajaran;
b. Menjelaskan struktur, tata urutan
dan hierarki belajar;
c. Memberikan kerangka sistematika
mengajar;
d. Memudahkan kendali pengajaran;
e. Membantu kecermatan dan
ketelitian penyajian;
f. Membangkitkan rasa percaya diri
dalam mengajar; dan
g. Meningkatkan kualitas pengajaran.
Khusus jenis buku ini, pemerintah
tidak takut untuk mengeluarkan uangnya hanya untuk menerbitkan Buku Diktat, contohnya ; “Materi pokok perkembangan dan belajar gerak”
(Sugiyanto dan Sudjarwo: 1991).
3) Buku paket
Suharsono (2005: 67) mengemukakan
“Buku paket adalah bahan atau materi pelajaran yang dituangkan secara tertulis
dalam bentuk buku yang digunakan sebagai pegangan pokok maupun pelengkap”.
Apabila buku diharapkan sebagi bacaan wajibatau bacaan pendukung guna membantu
penyajian gurudalm mengajarnya sangat umum disebut sebagiai bukupelajaran atau
buku teks.
Guru tidak hanya sekedar
melaksanakan apa yang ada dalam kurikulum, melainkan harus dapat
menginterpretasi dan mengembangakn kurikulum menjadi bentuk pembelajaran yang
menarik. Umumnya jenis buku tersebutmencakup isi bahasan yang lengkap dan
diterbitkan sertadiedarkan secara luas. Selain itu, dengan memanfaatkan buku
paket yang telah disediakan di sekolah,diharapkan siswa dapat menambah
informasi yang berkaitan dengan pendidikan jasmani.
4) Buku biografi
Buku yang merupakan berisi tentang
kehidupan tokoh tertentu seperti pemimpin, orang orang sukses, serta orang
orang yang memiliki keunikan dalam dirinya yang dapat di expos ke dalam sebuah
buku. Untuk membuat buku jenis ini tidaklah terlalu mudah bagi seorang pemula,
dikerenakan kebutuhan akan informati serta cara penyampaiannya pun cukup
memberatkan penulis.contoh : “M.F. Siregar
Matahari Olahraga Bangsa”(Brigitta isworo & Primastuti Handayani :
2008).
5) Buku terjemahan
Buku Terjemahan merupakan salah satu
buku yang sangat memudahkan untuk dibaca buku buatan luar negeri atau buku
bahasa asing, tanpa harus mahir dalam bahasa tersebut. Tapi adakalanya buku ini
bisa membuat binggung karena penerjemahannya yang kurang tepat. Di dalam
usaha menerbitkan buku jenis inipun tergolong tidak sulit, karena cuma perlu
melakukan loby terhadap beberapa
penerbit yang memang sering menerbitkan buku terjemahan. Penerbit penerbit
yang seperti itu biasanya telah memiliki hak cipta untuk menterjemahkan
buku buku tertentu.
6) Buku ilmiah populer
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
didefinisikan “Buku ilmiah populer merupakan buku ilmiah yang ditulis dengan
cara yang mudah dipahami orang awam”.Istilah ilmiah populer (Popular science)
adalah proses pengubahan atau pengalihbahasaan dari bahasa ilmu menjadi bahasa
populer atau awam, agar lebih mudah dipahami oleh orang awam. Penulisan ilmiah
populer dianggap penting, karena dapat berperan sebagai “jembatan” antara
ilmuwan (si empunya ilmu) dan masyarakat (awam; tidak memahami ilmu si empunya
ilmu secara mendalam). Jadi, jika seseorang menulis ilmiah populer, maka pada
hakekatnya, orang tersebut dapat dianggap telah berperan “membumikan” ilmu yang
(dianggap) sulit dan rumit, menjadi ilmu dengan bahasa yang mudah dipahami oleh
masyarakat.artikel penelitian bisa menjadi model untuk laporan
laboratorium, mereka biasanya tidak digunakan sebagai model, sebagai siswa,
terutama di tahun-tahun awal sarjana, memiliki eksposur sedikit kepada mereka.
Tegangan diletakkan pada laporan laboratorium di program sarjana dalam
ilmu-ilmu eksperimental jelas dari studi Braine (1989: 23). Jadi buku ilmiah popular merupakan
buku yang berisi tentang karya ilmiah suatu keilmuan.
Buku ilmiah Populer bermanfaat sebagai
bahan referensi mengenai berbagai bidang disiplin ilmu keolahragaan yang
sebagai eksplorasi ilmu dalam bidang ilmu keolahragaan. Dengan menggunakan buku
ini jelas dapat membantu dosen dan mahasiswa dalam pengembangan suatu karya
ilmiah keolahragaan.
b.
Jurnal
Berdasarkan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,2008: 352) “Jurnal merupakan Majalah yang
khusus memuat artikel di bidang ilmu tertentu”. Jurnal
adalah
terbitan berkala yang berbentuk pamflet berseri berisi bahan yang sangat diminati
orang saat diterbitkan. (Mien Rifai, 1995:
57-95). Ada beberapa jenis penerbitan berkala, yaitu Jurnal ilmiah dan
Majalah.
1) Jurnal ilmiah
Jurnal ilmiah merupakan jurnal yang
memuat hasil dan temuan baru penelitihan. Tulisan berkala ini biasanya sebagai
sarana untuk komonikasi para pakar yang terspesialisasi. Selain itu, untuk
keperluan pendidikan ada pula yang disebut berkala tinjauan yang memuat
berbagai artikel ilmiah sejenis yang terbit beberapa tahun terakhir untuk
memberikan gambaran kemajuan menyeluruh suatu topik (Mien Rifai, 2005: 59). Berdasarkan
pengertian, macam dan jenis tersebut diatas, didalam pedoman ini dimaksudkan
dengan jurnal ilmiah adalah terbitan berkala yang berisi kajian-kajian ilmiah
yang spesifik dan dalam bidang tertentu.
Dibawah
ini beberapa contoh jurnal yang berkaitan dengan Ilmu Keolahragaa, antara lain;
”Kualitas
Guru Pendidikan Jasmani di Sekolah : Antara Harapan dan Kenyataan”(Ali Maksum: 2006), “Dimensi Kajian Ilmu Keolahragaan” (Sugiyanto: 2008).
2) Majalah
Terbitan berseri yang direncanakan untuk
terbit dalam jangka waktu yang panjang dan tidak terbatas, secara berkala dan
umumnya lebih sering dari pada setahun sekali, dalam setiap terbitan biasanya
memuat berbagai karangan, surat kabar / harian tidak tergolong dalam kategori
majalah, majalah biasanya memiliki judul yang jelas dan khas, tetapi
kebannyakan majalah diterbitkan oleh suatu himpunan atau lembaga dan memuat
berita, laporan konferensi dan kegiatan berkala lainya, judulnya biasanya
terdiri atas istilah umum yaitu seperti bulletin, laporan, pewarta dan warta
(Magetsari Nurhaidi,1992:78).
Pengertian majalah dalam bahasa
inggris adalah Magazine, merupakan
terbitan berkala / semula hanya memuat tulisan-tulisan dibidang kebudayaan dan
ilmu pengetahuan. Kemudian istilah itu digunakan untuk segala jenis penerbitan
berkala yang lebih luas, isinya meliputi berbagai bentuk karya sastra,liputan
jurnalisliputan tentang berbagai topik aktual yang patut diketahui konsumen
pembaca.
3.
Referensi
Bidang Keolahragaan
a.
Jenis Referensi Bidang Keolahragaan
Ilmu keolahragaan pada dasarnya mempunyai
akar pada pengetahuan yang melingkupi hidup dan kehidupan manusia yang bersifat
multi dimensi. Hidup dan kehidupan manusia selalu berada dalam dimensi
kelahiran, pertumbuhan-perkembangan, dan kematian; dimensi fisikal; dimensi
individual dan sosial; dimensi ruang dan waktu; dimensi natural, humanities,
dan kultural.
Ilmu
keolahragaan sebagai satu konsekuensi ilmiah fenomena keolahragaan berarti
pengetahuan yang sistematik dan terorganisir tentang fenomena keolahragaan yang
dibangun melalui sistem penelitian ilmiah yang diperoleh dari medan-medan
penyelidikan (KDI Keolahragaan, 2000: 8).
Bagaimana
tuntutan perkembangan keolahragaan sebagai ilmu itu di Indonesia khususnya dan masyarakat
akademis dunia pada umumnya? Terdorong oleh rasa ingin mencari jawaban tepat
terhadap pertanyaan: Apakah olahraga merupakan ilmu yang berdiri sendiri, dan
sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya. Kesadaran bahwa olahraga
merupakan ilmu secara internasional mulai muncul pertengahan abad 20, dan di
Indonesia secara resmi dibakukan melalui deklarasi ilmu olahraga tahun 1998
(KDI Keolahragaan, 2000:2). Beberapa akademisi dan masyarakat awam masih
pesimis terhadap eksistensi ilmu olahraga, khususnya diIndonesia, terutama
dengan melihat kajian dan wacana akademis yang masih sangat terbatas dan kurang
integral. Namun sebagai suatu ilmu baru yang diakui secara luas, ilmu olahraga
berkembang seiring kompleksitas permasalahan yang ada dengan
ketertarikan-ketertarikan ilmiah yang mulai bergairah menunjukkan eksistensi
ilmu baru ini ke arah kemapanan.
Pembagian
substansi dari jenis referensi bidang keolahragaan keolahragaan ditinjau dari
isi keilmuannya terdiri dari 3 jenis, yaitu: 1) Bidang disiplin ilmu (teori keolahragaan),
2) Bidang tematik (kajian keolahragaan), 3) Bidang praktik (kecabangan olahraga).
1) Bidang disiplin ilmu (teori keolahragaan)
Dimensi bidang
disiplin Ilmu keolahragaan adalah ilmu yang mendukung ilmu keolahragaan
berdasarkan pendekatan teori yang relevan, menjadi sebuah rumpun atau
bidang-bidang tertentu. Konsep teori Haag (2004: 18) dijelaskan “Disiplin ilmu adalah
bidang terapan ilmu dasar yang memiliki hubungan yang terkait dengan disiplin ilmu
lain dalam olahraga dan ilmu olahraga”. Selain itu ada 16 disiplin yang terbagi dalam kelompok dengan 4 bagian
yang meng-arah ke olahraga dan ilmu olahraga.

Gambar
2.1 Disiplin Ilmu dari Olahraga dan Ilmu Olahraga (Haag,2004: 18)
Medis dan Pengetahuan alam merupakan
aspek dasar ilmiah secara biologis dan alami yang melibatkan gerak, bermain,
dan berolahraga. Karena manusia secara individual dan sosial berorientasi
ketika bertindak dalam gerakan, bermain, dan berolahraga perilaku mereka
memberikan alas an untuk Berperilaku-Sosial-Berpendidikan,
karena olahraga telah menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat
terutama dalam perkembangan bermasyarakat secara luas. Politik-Hukum-Ekonomi-manajerial Organisasi menjadi sesuai untuk
memahami gerakan, bermain, dan olahraga serta dapat menjadikan sebuah ketepatan
gerak dan tindakan yng optimal. Semua ini akan menjadi dasar dalam pemahaman
ilmu sejarah dan dalam aspek dasar perbandingan sebuah Negara (Informasi- Pilsafat-Sejarah-Perbandingan).
Selain bidang
ilmu keolahragaan yang dikonsep oleh Haag diatas, ada beberapa bidang teori keolahragaan
lain yang diambil dari konsep “VADE MECUM”
(ICSSPE,2000: 5) yang dapat digunakan sebagai acuan informasi pada masing-masing bidang disiplin
ilmu yang beragam membentuk ilmu olahraga. Konsep yang dimulai dengan gambaran
umum tentang subdisiplin, dari perkembangan sejarah untuk arah masa depan. Oleh
karena itu dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan arah dari
disiplin ilmu yang semakin menarik. Dengan pemahaman yang terus berkembang dan
diperbarui untuk masyarakat global saat ini, referensi ini menawarkan peneliti,
profesional, dan mahasiswa informasi terkini untuk membantu mereka
mengeksplorasi tujuan dan peluang di lapangan dan mengeksplorasi kontribusi
potensi mereka untuk pembangunan dan keberhasilan. Beberapa contoh disiplin
ilmu yang mendukung ilmu keolahragaan didasari oleh konsep “VADE MECUM” (ICSSPE, 2000) antara lain
sebagai berikut:
1) Pendidikan Jasmani Adaptif (Adapted Physical Activity Science)
2) Biomekanika (Biomechanics)
3) Ilmu Kepelatihan (Coaching Science)
4) Perbedaan
Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Comparative
Phisical Education and Sport)
5) Kinantropometri (Kinanthropometry)
6) Psikologi
Syaraf, dan Belajar Gerak (neuromotor
Psycology dan Motor learning)
7)
Pilsafat Olahraga (Philosophy of Sport)
8)
Politik Olahraga ( Political of Sport)
9)
Sosiologi Olahraga (Sociology of Sport)
10) Fisiologi dan Olahraga (Sport and Exercise Physiology)
11) Psikologi dan Olahraga (Sport and Exercise Psychology)
12) Fasilitas Olahrag (Sport Facilities)
13) Sejarah Olahraga (Sport History)
14) Informasi Olahraga (Sport Information)
15) Hukum Olahraga (Sports Law)
16) Manajemen Olahraga (Sport Management)
17) Kedokteran Olahraga (Sports Medicine)
18) Pedagogi Olahraga (Sport Pedagogy)
19)
Visi Olahraga (Sport Vision)
Berjalannnya
waktu akan berpengaruh terhadap perkembangan dunia olahraga dan secara langsung
akan memberikan kontribusi erhadap perkembangan ilmu keolahragaan yang secara
terus menerus ke arah yang lebih baik dari berbagai sudut pandang secara
teoritis. Oleh karena itu perkembangan yang terjadi secara langsung berdampak
terhadap disiplin-disiplin ilmu lain yang dapat berkaitan dengan disiplin ilmu
keolahragaan yang sudah ada.
2) Bidang tematik (kajian keolahragaan)
Bidang kajian keolahragaan
merupakan bentuk referensi yang memberi informasi berbagai aspek sudut pandang secara
teoritis dan empiris yang ada dalam fenomena keolahragaan, yang merupakan
permasalahan yang perlu dikaji sebagai upaya pendalaman dan pengembangan tubuh
pengetahuan ilmu keolahragaan. Dengan kata lain referensi keolahragaan yang
didalamnya berisi pelajaran-pelajaran itu difokuskan pada berbagai aspek yang
terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Tema-tema yang dikaji dalam referensi
bidang kajian keolahragaan antara lain :
a) Olahraga
bagi anak-anak dan pemuda
b) Olahraga
dan prestasi
c) Olahraga,
rekreasi, dan pengisian waktu luang
d) Olahraga
dan aktivitas di alam terbuka
e) Olahraga,
musik, dan tari
f) Olahraga
dan kesegaran jasmani
g) Olahraga
bagi usia lanjut
h) Olahraga
dan gender
i) Olahraga
bagi penyandang tuna
j)
Olahraga dan terapi
kesehatan
k) Olahraga,
etika, da estetika
l)
Olahraga dan
produktivitas kerja (dalam sugiyanto, 2008: 5).
Selain Tema – tema
kajian keolahragaan di atas sejalan dengan berkembangnya hal – hal yang
berkaitan dengan dunia keolahragaan sekarang ini secara langsung dapat memberi
dampak terhadap peneliti ataupun profesi lain mengkaji tema lain dari kajian
keolahragaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan
masyarakat akan layanan professional yang dlandaskan dari diterapkannya ilmu
keolahragaan dalam kehidupan sehari-hari.
3) Bidang praktik (kecabangan olahraga)
Referensi bidang
kecabangan olahraga meliputi jenis atau cabang-cabang olahraga yang sudah ada dan di lindungi oleh induk
organisasi yang sudah ada secara nasional bahkan hingga ke-tahap yang memiliki
induk organisasi internasional yaitu: Atletik ,Senam, Beladiri, Renang dan
Loncat indah, SepakBola, Bolabasket, Bolavoli, Bolatangan, Bulutangkis,
Tenismeja, Tenis,Dan sebagainya yang berjumlah setidaknya 49 cabang olahraga
prestasi dan banyak macam olahraga kesehatan, olahraga penyandang tuna,
olahraga penjelajahan alam, dan olahraga tradisional (Sugiyanto, 2008: 7).
Selain dari bentuk cabang-cabang olahraga di atas, dengan wujud kreatifitas
yang tinggi peneliti ataupun professional dibidang keolahragaan juga mampu
didalam menciptakan atau mengembangkan sebuah olahraga baru dengan bentuk dan
hal-hal yang terbaru dari cabang-cabang olahraga yang telah mapan.
b.
Kemutakhiran Koleksi Referensi Guru Pendidikan Jasmani dan Dosen FIK
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online,kata kemutakhiran berasal dari
kata mutakhir yang memiliki makna terakhir, terbaru, dan modern. “Aktualitas
berarti informasi apapun yang disuguhkan media harus mengandung unsur kebaruan,
menunjuk pada peristiwa yang baru terjadi atau sedang terjadi. Secara
etimologis, aktualitas mengandung arti kini dan keadaan sebenarnya”(Sumadiria,
2005: 65). Kemudian Purwono (2005: 8) menyebutkan bahwa “Kemutakhiran adalah
sumber-sumber pustaka yang terbaru dan menghindari teori-teoriatau bahasan yang
sudah kadaluarsa”. WLN Collection
Assesment manual (dalam Hardi, 2006:21) disebutkan bahwa “Kemutakhiran
koleksi adalah 10% dari total koleksi dimana kemutakhiran koleksi yang dimaksud
adalah terbitan lima (5) tahun terakhir”.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan
bahwa kemutakhiran koleksi referensi merupakan hal yang sangat penting
mengingat semakin pesatnya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan pada masa
kini. Namun koleksi yang sudah usang masih dibutuhkan terutama dalam kegiatan flashback dan review.
4.
Pemanfaatan
Referensi pada Perpustakaan dan nternet
a.
Perpustakaan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008: 398) didefinisikan “Perpustakaan
adalah tempat, gedung, ruang yg disediakan
untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku; koleksi buku, majalah, dan
bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan”.
Menurut
Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 “Perpustakaan adalah institusi pengelola
koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional
dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian,
pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka”.
Ada beberapa jenis perpustakaan yang
tercantum dalam Undang-Undang nomor 43 tahun 2007, antara lain : (1) Perpustakaan
Nasional, (2) Perpustakaan Umum, (3) Perpustakaan Sekolah/Madrasah, (4) Perpustakaan
Perguruan Tinggi, (5) Perpustakaan Khusus.
Perpustakaan
umum diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten/kota, kecamatan, dan desa, serta dapat diselenggarakan oleh
masyarakat. Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan
perpustakaan umum daerah yang koleksinya mendukung pelestarian hasil budaya
daerah masing-masing dan memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar
sepanjang hayat. Perpustakaan umum yang diselenggarakan oleh Pemerintah,
pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kecamatan, dan desa /kelurahan
mengembangkan sistem layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan
komunikasi.
Koleksi
pribadi referensi ataupun yang ada di Perpustakaan Sekolah dan perguruan
Tinggi selain terdiri dari beberapa
jenis, juga diharapkan memiliki kesesuaian dengan kebutuhan pengguna. Dengan
koleksi yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna, keberadaan perpustakaan pribadi
ataupun perpustakaan diSekolah dan Perguruan Tinggi akan terasa sangat
membantu.
Yang dimaksud
dengan Perpustakaan Sekolah adalah semua perpustakaan yang diselenggarakan di
sekolah, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah
Lanjutan.
Perpustakaan
Sekolah merupakan bagian terpadu dari sekolah yang bertugas mengumpulkan,
mengelola, menyimpan dan memelihara bahan pustaka untuk dipergunakan oleh guru
dan siswa untuk menunjang kegiatan belajar mengajar disekolah.
Perpustakaan
Sekolah menurut jenis dan tingkatannya terdiri atas :
1) Perpustakaan
sekolah taman kanak-kanak.
2) Perpustakaan
sekolah dasar.
3) Perpustakaan
sekolah menengah tingkat pertama
4) Perpustakaan
sekolah menengah tingkat atas
Setiap perguruan
tinggi menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional
perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan. Perpustakaan
sebagaimana dimaksud memiliki koleksi, baik jumlah judul maupun jumlah
eksemplarnya, yang mencukupi untuk mendukung pelaksanaan pendidikan,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perpustakaan perguruan tinggi
mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Setiap perguruan tinggi mengalokasikan dana untuk pengembangan perpustakaan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan guna memenuhi standar nasional
pendidikan dan standar nasional perpustakaan.
Pada
perpustakaan akademik, hampir seluruh perpustakaan mempertahankan layanan
referensi atau bagian informasi dan sudah seharusnya pustakawan memiliki
asisten yang dapat membantu dan membimbing pengunjung dalam memberikan
informasi mengenai referensi-referensi yang ingin di peroleh yang dapat juga
disesuaikan dengan subjek yang berdasarkan bagian masing-masing dari
jenis-jenis keilmuan yang berbeda seperti; bagian kinesiology, kinetika
manusia, ilmu kepelatihan atau pendidikan Jasmani. Hal tersebut sesuai dengan
konsep yang disampaikan Haag (2004: 17).
Powell (1994: 21),
menggunakan dua istilah
untuk mengkaji pemakai, yaitu House
survey of users
bagi pemakai yang
menjadi anggota suatu
perpustakaan, dan Community
analysis untuk pemakai baik
yang menjadi anggota
maupun bukan anggota
perpustakaan. Sulistyo-Basuki (2005:25) membagi jenis pemakai
berdasarkan sosio-profesional (pekerjaannya) menjadi tiga bagian utama, yaitu :
a) Pemakai yang belum terlibat dalam kehidupan
aktif pencarian informasi, seperti mahasiswa;
b) Pemakai yang mempunyai pekerjaan tetap, dan
bidang-bidang spesialis tertentu, seperti pegawai negeri, (yang masih dapat
dikelompok-kelompokkan lagi, seperti teknisi, asisten, administrator),
profesional (dosen, dokter, pengacara), dan industriawan;
c) Pemakai umum, yang memerlukan informasi umum
untuk keperluan khusus.
Dalam
pemanfaatan referensi oleh guru dan dosen dapat melalui perpustakaa, internet
dan lain-lain, amun dalam proses pembelajaran pada umumnya dapat melalui perpustakaan dan media
internet.
b.
Internet
Ghent (dalam
hag, 2004:59), mengemukakan “Internet adalah media yang sangat demokratis, yang
berubah begitu cepat dan di mana siapa pun dengan peralatan yang tepat dapat
mengembangkan situs mereka sendiri”.
Awalnya Internet
merupakan jaringan komputer
yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di
tahun 1969,
melalui proyek ARPA
yang disebut ARPANET (Advanced
Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan
bagaimana dengan hardware
dan software
komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan
komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET
merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat
dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal
bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).
Internet
dapat diartikan sebagai jaringan komputer luas dan besar yang mendunia, yaitu
menghubungkan pemakai komputer dari suatu negara ke negara lain di seluruh
dunia, dimana di dalamnya terdapat berbagai sumber daya informasi dari mulai yang
statis hingga yang dinamis dan interaktif.
Secara
umum ada banyak manfaat yang dapat diperoleh apabila seseorang mempunyai akses
ke internet. Berikut ini sebagian dari apa yang tersedia di internet: (1) Informasi
untuk kehidupan pribadi: kesehatan, rekreasi, hobby, pengembangan pribadi,
rohani, sosial. (2) Informasi untuk kehidupan profesional/pekerja : sains,
teknologi, perdagangan, saham, komoditas, berita bisnis, asosiasi profesi,
asosiasi bisnis, berbagai forum komunikasi.
Sebuah Websites yang menyediakan begitu banyak informasi yang ingin
diketahui antara lain (http:/www.pe.central.org)
dari Virginia Tech. yang menyediakan
informasi aktual mengenai perkembangan fisik yang sesuai untuk anak-anak dan
remaja ditambah rencana pembelajaran, penilaian ide, informasi yang
disesuaikan, buku, dan hal-hal yang dihasilkan lainnya (Haag, 2004:193). Penelusuran
Informasi melalui Komputer dan Internet Perkembangan teknologi informasi
khususnya komputer telah membawa kemudahan tersendiri dalam proses penelusuran
informasi. Pemakai / pengguna dan staf perpustakaan mempunyai kesempatan lebih
untuk mendapatkan informasi baik berupa informasi tercetak maupun digital.
Apalagi dengan adanya internet, pemakai dan staf perpustakaan dimanjakan untuk
meraih lebih besar lagi informasi yang dibutuhkan dari berbagai unit informasi
/ perpustakaan di seluruh dunia (Arif Surachman, 2007: 7).
5.
Penelusuran Informasi
Referensi pada Perustakaan dan Internet
a.
Penelusuran Informasi Referensi pada Perpustakaan
Menurut American Library Association (ALA)
layanan rujukan adalah sebagian layanan perpustakaan yang secara langsung berhubungan
denngan pembaca dalam memberikan informasi dan penggunaan sumber-sumber
perpustakaan untuk kepentingan studi dan penelitian. Powell (1994:21), menggunakan
dua istilah untuk mengkaji pemakai,
yaitu House survey of
users bagi pemakai
yang menjadi anggota
suatu perpustakaan, dan Community analysis untuk pemakai
baik yang menjadi
anggota maupun bukan
anggota perpustakaan.
Menurut Kuhlthau (1991: 362) “Dalam pencarian informasi dikenal adanya
rangkaian aktivitas yang dinamakan Information
Searching Process (ISP). Dalam proses ini secara umum ada enam pola
pencarian informasi,yang urutannya seperti; inisiasi, seleksi, eksplorasi,
formulasi, koleksi, dan presentasi dari informasi yang telah ditemukannya”.
Lebih lanjut Kuhlthau (1991:362), menggambarkan proses ISP ini dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 2.1 Proses pencarian Informasi
|
Tahap-tahap dalam ISP
|
Perasaan yang muncul dalam suatu tahap
|
Pola pikir yang muncul
|
Tindakan yang biasa dilakukan
|
|
1. Inisiasi
|
Ketidakpastian
|
Umum/samar-samar
|
Mencari informasi latar belakang
|
|
2. Seleksi
|
Optimisme
|
Penuh pertimbangan
|
Berdiskusi, memulai seleksi
|
|
3. Eksplorasi
|
Kebingungan/frustasi, keraguan
|
-
|
Mencari informasi yang relevan
|
|
4. Formulasi
|
Kejelasan
|
Lebih sempit/lebih jelas
|
-
|
|
5.Pengumpulan (Koleksi)
|
Keyakinan
|
Peningkatan rasa tertarik
|
Mencari informasi secara lebih terfokus
|
|
6. Presentasi
|
Lega, Puas atau bisa juga kecewa
|
Lebih jelas, lebih terfokus.
|
-
|
Secara rinci (Suwanto,
2003: 21) mengemukakan perkembangan layanan jasa penelusuran atau
temu kembali informasi akan diuraikan di bawah ini;
1) Penelusuran informasi secara manual
Sebelum membahas lebih jauh tentang
perkembangan Penelusuran informasi (Information
retrieval) atau Temu kembali informasi, perlu kita samakan pendapat kita
tentang pengertian penelusuran informasi. Penelusuran Informasi atau Temu
kembali informasi adalah proses penemuan kembali informasi atau data yang
dibutuhkan pemakai yang telah disimpan dalam suatu sistem informasi atau dalam
suatu pangkalan data.
Sebelum adanya penerapan teknologi informasi, penelusuran informasi
dilakukan dengan menggunakan cara-cara manual, tanpa bantuan komputer. Misalnya
petugas akan mencari data tentang SK
Gubernur tentang penataan wilayah Tambaklorok; Caranya tentunya dicari dalam
buku agenda, kemudian dicari dalam map atau ordner.
Kalau
misalnya pemakai mencari suatu judul buku atau artikel tentang sejarah
kota Semarang di perpustakaan atau di pusat informasi, maka dia akan mencari
melalui katalog subjek di almari
katalog. Sarana-sarana penelusuran manual yang digunakan yaitu: Katalog,
Indeks, dan bibliografi (Suwanto, 2003: 5).
2) Penelusuran
informasi elektronik
Seiring dengan kemajuan
teknologi informasi, dan penerapannya di bidang komputer, maka penelusuran informasi mengalami berbagai
peningkatan pula. Orang tidak lagi puas dengan cara-cara tradisional mencari
literatur dengan cara-cara manual, tetapi mulai mencari sarana-sarana untuk mempercepat penelusuran
yaitu dengan sarana elektronis. Sarana elektronis yang dimaksud di sini yaitu
komputer dan perangkat lunak dan mungkin ditambah telephone dan modem.
Jadi yang dimaksud Penelusuran
Informasi secara Elektronis yaitu penemuan suatu informasi yang
dibutuhkan pemakai
dalam suatu pangkalan data atau sistem informasi (baik itu perpustakaan, pusat
informasi, maupun pusat dokumentasi) dengan menggunakan sarana-sarana
elektronik.
Berikut ini adalah beberapa contoh teknik penelusuran informasi /
dokumen di perpustakaan:
a) Penelusuran informasi melalui katalog
Teknik penelusuran menggunakan katalog perpustakaan ini biasanya
difokuskan untuk menemukan sebuah kode atau angka klasifikasi yang akan
menuntun pemakai ke dalam sumber informasi / koleksi perpustakaan yang
dibutuhkan. Pemakai akan diarahkan kepada jajaran koleksi perpustakaan. Pemakai
atau staf dapat menelusur melalui 3 entri penting yakni berdasarkan judul,
pengarang dan / atau subyek. Berikut secara ringkas dapat diberikan ilustrasi
diagram alur penelusuran informasi melalui katalog.
Gambar
2.2 Penelusuran Informasi Melalui Katalog
b) Penelusuran informas melalui bibliografi
Teknik ini mirip dengan katalog, hanya bibliografi cakupannya lebih
luas lagi yakni tidak hanya berupa koleksi yang dimiliki perpustakaan akan
tetapi juga di luar perpustakaan. Teknik penelusuran ini memanfaatkan daftar
bahan pustaka baik yang berupa buku, jurnal maupun sumber lainnya untuk
menelusur lebih jauh informasi dan sumber informasi aslinya. Berikut ini adalah
alur proses penelusuran informasi melalui bibliografi.
Gambar 2.3
Penelusuran Informasi Melalui Bibliografi
Secara mudah sebetulnya bibliografi ini akan dapat dilihat dalam
sebuah karya tulis atau bahan pustaka, biasanya pada bagian akhir. Namun ada
juga yang tercetak dalam sebuah buku bibkiografi seperti bibliografi nasional
Indonesia.
c) Penelusuran informasi melalui indeks
Indeks sering diartikan sebagai daftar istilah penting yang terdapat
dalam sebuah karya tulis / bahan pustaka yang disusun secara alphabetis. Indeks
ini akan memudahkan orang dalam melakukan penelusuran informasi, karena dapat
membawa penelusur kepada sumber informasi secara langsung. Indeks ini dapat
berupa bagian dari sebuah karya tulis / bahan pustaka dan dapat pula berupa
buku yang diterbitkan khusus. Misal, indeks majalah dan atau surat kabar.
Beberapa contoh pemanfaatan indeks: (a) Indeks dalam buku-buku ilmiah, (b) Buku
Indeks, (c) Indeks (artikel) majalah, (d) Majalah indeks, (e) Indeks surat
kabar, (f) Indeks makalah, (g) Indeks khusus lainnya.
d) Penelusuran informasi melalui abstrak
Hal yang membedakan antara indeks dan abstrak adalah indeks hanya
sampai pada informasi kepada penunjukkan tempat suatu informasi disimpan,
sedangkan abstrak di samping menunjukkan tempat informasi, juga memuat
ringkasan informasi dari subyek yang ada. Dan secara definitive, abstrak
merupakan pemadatan dari sebuah karya seperti laporan penelitian, artikel
majalah/jurnal, prosiding, dan lain-lain. Abstrak yang biasanya dikumpulkan
sesuai dengan subyek atau kekhususan informasinya dan disusun secara alphabetis
juga. Darmono (2001:25) menyatakan alat bantu
seleksi adalah sebagai berikut:
1) Katalog
penerbit dari berbagai penerbit
Katalog penerbit berisi informasi buku-buku
terbaru dari penerbit dalam dan luar negeri. Informasi yang dikandung biasanya
berisi judul, pengarang, tahun terbit, jumlah halaman, harga buku dan sering
pula menyertakan anotasi atau deskripsi cakupan isi buku.
2)
Tinjauan buku
Tinjauan buku biasanya dimuat pada majalah
ilmiah, surat kabar serta majalah popular. Ini merupakan salah satu alat untuk
mengevaluasi dan seleksi tulisan bagi tulisan orang-orang ternama.
3) Bibliografi
nasional Indonesia
Berisi informasi tentang terbitan seluruh
Indonesia yang mencakup buku, laporan penelitian, bacaan anak-anak, terbitan
pemerintahan, laporan konferensi serta peta.
4)
Daftar buku IKAPI
Daftar ini merupakan katalog berbagai
penerbit Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).
Katalog ini diterbitkan IKAPI dan isi dari daftar ini memuat judul, pengarang,
jumlah halaman, ISBN, dan harga buku. Alat ini memuat informasi judul buku yang
merupakan gabungan dari berbagai bidang pengetahuan.
5)
Resensi
Adalah suatu uraian pembicaraan maupun
penilaian terhadap suatu karya yang menyangkut bentuk fisik maupun isinya.
Resensi dapat disampaikan pada media tatap muka, diskusi buku, media cetak
(buku, majalah, dan surat kabar), media dengar (radio), maupun media pandang
dengar atau televisi.
Sujono Trimo (1986:176) menyebutkan beberapa
alat bantu penyeleksian bahan pustaka sebagai berikut:
1.Para ahli resources persons, yaitu para ahli yang diminta rekomendasinya
berkaitan dengan koleksi sesuai dengan bidang ilmunya.
2.Bibliografi (current,
restrocpective) lokal, nasional, maupun internasional.
3.Majalah-majalah profesional/resensi buku dalam surat kabar.
4.Katalog-katalog penerbit, toko buku, dealer, serta lembaga tertentu.
Yuni Nurjanah (2010: 91) menyebutkan
bahwa “Kategori alat bantu seleksi yaitu; Sumber informasi buku-buku yang baru
diterbitkan (in-print books):
dilengkapi dengan indeks pengarang, judul, dan subjek), mencakup data mengenai
pengarang, judul, impressum (penerbit, kota terbit, tahun terbit), dan harga”.
Selain itu biasanya dilengkapi pula dengan ukuran buku, sifat2 khusus buku,
keterangan mengenai seri ISBN seperti;
a.
Katalog, brosur, dan lembar
promosi
b.
Tinjauan buku-buku masa kini
c.
Bibliografi nasional
d.
Pangkalan data terpasang (online database)
e.
Buku-buku terbaik, daftar yang
direkomendasikan, dan koleksi inti
f.
Bibliografi subjek
g.
Daftar Tambahan Koleksi (accession List)
Menurut Al-Rahman (2009: 37) “Untuk
mendukung proses pemilihan bahan pustaka secara baik dan optimal perlu ditetapkan
alat Bantu seleksi, antara lain: Daftar judul buku yang disahkan Direktur
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah; katalog atau brosur penerbit; timbangan
atau resensi buku; daftar terbitan berkala; dan usulan dari para pengguna”.
b. Penelusuran Informasi
Referensi Melalui Internet
Pada tahun 2007
UGM melakukan Pelatihan PUSDOKINFO dalam upaya memberikan wawasan “Penelusuran Informasi: sebuah pengenalan”
melalui komputer dan media internet telah membawa orang untuk menembus
batasan-batasan yang semula ada pada teknik penelusuran informasi secara manual
/ konvensional. Melalui OPAC, Search Engine, Database Online dan fasilitas
lainnya pemakai perpustakaan akan lebih mudah mendapatkan informasi yang
dikehendaki, dengan jenis dan macam yang cakupannya lebih luas lagi. Salah
satu adalah PROQUEST.
Database Proquest dapat diakses melalui
alamat http://proquest.umi.com/login/.
Proquest ini hanya dapat diakses
melalui jaringan intranet Universitas Gadjah Mada. Untuk mengakses dari luar
UGM diperlukan user id dan password. Hal ini dikarenakan untuk
dapat mengakses database ini, sebuah institusi atau perorangan harus
berlangganan dan membayar biaya akses selama 1 tahun.
Proquest saat ini mencakup beberapa
database yakni:
1. Academic Research
Library untuk Interdisciplinary
2. Proquest Medical
Library untuk Medical Sciences
3. News
untuk U.S. Nations Newspaper Abstract
4.
Proquest
Agriculture Journals dan Biology Journals untuk Sciences
5.
Proquest
Computing dan Telecomunications
untuk Technology.
Fitur utama Proquest terbagi
menjadi 5 bagian yakni; Basic Search,
Advanced Search, Topics, Publications, dan My Research.
a. Basic Search
digunakan untuk pencarian melalui keyword
dengan metode sederhana yakni melakukan pengetikan pada form searching yang tersedia.
b. Advanced Search
digunakan untuk pencarian melalui keyword
dengan metode BOOLEAN yang
memungkinkan menggunakan beberapa spesifikasi keyword dalam penelusurannya.
c. Topics
digunakan untuk melakukan penelusuran dengan melalui “term topic” yang mungkin kita ketahui.
d. Publications
digunakan untuk melalukan penelusuran/pencarian melalui judul/nama jurnal yang
kita inginkan.
e. My Research
digunakan sebagai tempat menyimpan sementara hasil pencarian kita.
Contoh halaman masing-masing fitur
yang disediakan oleh Proquest dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Adapun langkah-langkah penelusuran
menggunakan proquest antara lain;
1.
BASIC Search
Berikut ini adalah
langkah-langkah melakukan penelusuran menggunakan fasilitas BASIC Search Proquest:
a. Ketikkan
alamat database Proquest pada Browser (Internet
Explorer/ Firefox) yakni http://proquest.umi.com/login
b.
Akan tampil halaman
standard Pencarian Proquest atau yang
disebut BASIC Search
c.
Ketikkan dalam form penelusuran yang tersedia, keyword (kata kunci) yang akan kita
cari misal: Conflict Resolution
d. Pilih
Database yang kita inginkan (sesuaikan dengan topic yang kita pilih), atau kita dapat biarkan posisi database
pada Multiple Database.
e. Tentukan
batasan tanggal/waktu dari artikel yang akan kita cari misal 7 hari terakhir, 1
bulan terakhir, dan seterusnya
f. Pilih
batasan hasil artikel/paper yang akan kita cari, apakah fulltext saja atau tidak?
Jika iya beri tanda dengan men”centang”nya (mengklik pada kotak box).
g. Setelah
itu KLIK pada tombol SEARCH yang
tersedia.
h. Tunggu
sampai keluar hasil yang berupa daftar artikel pada layar komputer kita.
i.
Pilih dan beri tanda
artikel yang kita pilih, klik pada bagian MY
Research apabila ingin melihat hasil pilihan kita atau teruskan pencarian
yang lain.

2.
ADVANCED Search
Berikut ini adalah pencarian
menggunakan ADVANCED Search:
a. Dari
menu utama (standard) klik tombol Advanced pada Menu Proquest.
b.
Selanjutnya akan tampil
halaman Advanced Search dengan
beberapa pilihan BOOLEAN.
c. Ketikan
beberapa keyword (kata kunci) sesuai
yang kita inginkan pada form dan
gunakan BOOLEAN yang tersedia. Misal Conflict Resolution, lalu pada baris
kedua OR
Peace building, lalu AND
Mediation.
d. Selanjutnya
lakukan langkah yang sama pada langkah (d) sampai dengan (i) BASIC Search

3.
TOPICS
Selanjutnya kita dapat
juga melakukan pencarian menggunakan kosa kata atau istilah yang biasa
digunakan (topic). Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut:
a.
Dari menu utama
Proquest, klik bagian TOPIC.
b. Selanjutnya
akan tampil halaman penelusuran topic.
c. Ketikkan
kosa kata, istilah atau topic yang
biasa kita temukan, misal SOSIAL CONFLICT,
lalu klik Find Term
d.
Selanjutnya akan
ditampilkan berbagai term (kosa kata / istilah) yang ada kata SOSIAL dan kata CONFLICT
e. Kita
dapat mengklik bagian View Document
apabila kita ingin melihat artikel dengan topic
yang berkaitan dengan TERM yang
kita temukan
f. Atau
kita dapat mengklik pada bagian NARROW untuk
mencari topic lain yang berdekatan
atau berkaitan dengan TERM yang kita
cari.
g.
Selanjutnya dari View document akan tampil daftar
artikel, dan kita dapat memilih artikel yang sesuai dengan keinginan kita, dan
pilihan kita akan tersimpan dalam My
Research.
h.
Untuk melihat isi
artikel/paper yang telah kita pilih dan
telusur kita dapat mengklik pada bagian My Research.
i.
Selanjutanya kita dapat
langsung mengklik pada bagian Abstract
apabila ingin melihat abstract,
bagian Fulltext apabila ingin melihat
secara keseluruhan artikel, dan sebagainya.



4.
PUBLICATIONS
Proses penelusuran menggunakan PUBLICATIONS pada prinsipnya hamper sama
dengan TOPIC, hanya yang dicari
adalah nama/judul Jurnal/Publikasinya. Kita akan melihat daftar publikasi yang
ada dalam database Proquest dan melihat satu persatu isi dari masing-masing
publikasi.

MY RESEARCH


Tampilan
Dokumen FULL TEXT

6. Cara Memperoleh Koleksi Referensi yang Ada di
Perpustakaan
Menurut Suyanto
(dalam Suwanto: 2000) “Studi
tentang pemakai merupakan kajian
secara sistematis terhadap karakteristik dan perilaku pemakai
informasi berkenaan dengan interaksinya dengan sistem informasi”.
Untuk
memanfaatkan koleksi referensi pada perpustakaan sekolah ataupun koleksi
pribadi Guru Pendidikan Jasmani dan Dosen FIK,sebagai pengguna referensi dapat
menggunakan cara-cara umum yang dapat dilihat dari kebiasaan mereka. Cara
pemanfaatan referensi tersebut bagi setia Guru Pendidikan Jasmani dan Dosen FIK
kadang-kadang berbeda dikarenakan faktor-faktor tertentu.
Menurut
Zulkarnaen (1997: 36) cara memperoleh koleksi referensi secara umum
dikategorikan seperti berikut :
1) Meminjam
Biasanya pengguna
melakukan peminjaman melalui meja sirkulasi perpustakaan Sekolah, perpustakaan
Perguruan Tinggi, dan perpustakaan daerah mendapatkan referensi yang di
inginkan. Dengan melakukan peminjaman, pengguna dapat memilki banyak waktu
membaca buku atau referensi lain yang ia pinjam. Buku dan referensi lain
tersebut dapat diperpanjang masa peminjamannya dan kemudian dikembalikan ke
perputakaan. Selain peminjaman terhadap perpustakaan dapat juga peminjaman
sesama profesi yang memiliki.
2) Membaca
di tempat
Bagi pengguna yang
memiliki waktu luang cenderung membaca diruang baca perpustakaan. Pengguna
dapat memilih beberapa buku untuk dibaca dan menghabiskan waktunya pada
perpustakaan. Pada perpustakaan yang memiliki ruang baca yang nyaman,akan
menambah pengguna yang akan membaca buku dperpustakaan tanpa harus meminjamnya.
Cara seperti ini dibatasi oleh jam layana perpustakaan.
3) Mencatat
informasi dari buku
Terkadang pengguna
hanya melakukan pencatatan informasi yang ia dapat dari koleksi buku dan
referensi lain diperpustakaan. Dengan cara seperti ini, pengguna
mendapatkaninformasi ringkas tentang berbagai masalah dari beberapa buku dan
referensi lain yang berbeda.
4) Memperbanyak
(menggunakan jasa foto copy)
Dengan menggunakan
fasilitas foto copy, pengguna dapat
memiliki sendiri informasi-informasi yang ia inginkan. Cara seperti ini biasnya
dilakukan pengguna yang memiliki waktu terbatas untuk ke perpustakaan dan tidak
ada edisi terbarunya.
Selain dari pelayanan perpustakaan ada 2 cara
yang biasa di gunakan dalam memperoleh referensi, antara lain;
a) Membeli
Cara
ini dilakukan jika si pengguna memiliki waktu luang untuk memperoleh referensi
dengan cara membeli di toko-toko buku yang ada tersedia diKota Medan atau juga
di Kota lain dengan cara ini pengguna dengan leluasa menggunaka referensi
sesuai kebutuhan tanpa harus melangggar hak cipta.
b) Penataran/Pelatihan
Cara ini dilakukan
jika seorang memiliki waktu atau diwajibkan dari lembaga instansi tempat
bekerja untuk ikut menghadiri kegiatana pentaran atau pelatiha, disana mereka
aka diberikan sebuah paparan suatu tema atau beberapa yang berguna terhadap
profesi yang di jalani, seperti; “Pertemuan Jaringan Informasi BKKBN Propinsi
Jawa Tengah, tahun 2002”. Dari pertemuan
tersebut setiap peserta dibekali makalah dari dari tema yang disampaikan oleh
pelaksana kegiatan.
B.
Penelitian
Relevan
Penelitian yang relevan dibutuhkan
untuk mendukung kajian teoritis yang dikemukakan, namun secara
umum survei pemanfaatan referensi
oleh Guru Pendidikan Jasmani dan Dosen FIK belum banyak dilakukan sehingga
peneliti belum menemukan penelitian yang relevan dengan penelitian yang
dilakukan sekarang.
C.
Kerangka
Pemikiran
Referensi merupakan sumber acuan dan
dapat di artikan sebagai buku-buku yag di anjurkan oleh dosen kepada mahasiswa
untuk dibaca. Buku referensi adalah buku yang dapat memberikan keterangan topik
perkataan, tempat, peristiwa, data statistika, pedoman, alamat, nama orang,
riwayat orang-orang terkenal. Di perpustakaan
biasanya buku-buku referensi di kumpulkan tersendiri dan di sebut “Koleksi
referensi”, apakah guru dan dosen yang ada pada masa sekarang ini mengikuti
perkembngan referensi? Sedangakan ruang tempat penyimpanan disebut ruang
referensi. Buku-buku referensi yang karena sifatnya sebagai buku penunjuk,
harus selalu tersedia di perpustakaan sehingga dapat di pakai oleh setiap orang
pada setiap saat. Menurut peneliti, penelusuran dan penelaahan aktualitas
referensi menjadi sesuatu yang urgen terutama terkait dengan bagaimana belajar
mengungkapan buah pikiran secara sistematis, kritis, dan ekonomis dalam dunia
pendidikan keolahragaan pada siswa dan mahasiswa FIK di Kota Medan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar