All children, except one, grow up. Semua anak, kecuali satu, tumbuh dewasa.
Ingin rasanya bermimpi kalau anak yang dikecualikan dalam kalimat pembuka novel The Adventures of Peter Pan di atas itu adalah Evan Dimas, Ilham Udin, dan rekan-rekannya di timnas U-19. Ya, andai saja mereka bisa seperti Peter Pan yang tetap kanak, emoh jadi dewasa, enggan menjadi tua....
Peter Pan dalam khayalan pengarangnya, J.M Barrie, adalah anak-anak atau remaja yang tidak bisa sekaligus tidak sudi tumbuh menjadi dewasa. Dia tak menyukai gagasan betapa enaknya menjadi orang dewasa. Mood-nya bisa langsung hilang dan dengan itu dia bisa kehilangan kekuatannya jika sudah dibayang-bayangi konsep kedewasaan.
Akan halnya karakter Pangeran Kecil dalam novel dengan judul yang sama karya Antoine de Saint-Exupery, Peter Pan boleh dibilang jadi wakil dunia anak-anak sebagai simbol semangat bermain yang tulus, hasrat bersenang-senang yang masih murni, juga naluri bertualang yang mungkin tanpa pretensi.
Peter Pan dan Pangeran Kecil menertawakan kepercayaan kalau orang dewasa adalah puncak kematangan manusia. Bagi keduanya, orang dewasa hanyalah mereka yang sok lebih bijak, sok lebih tahu, sok lebih matang. Dibandingkan anak-anak, setidaknya bagi Peter Pan dan Pangeran Kecil, orang dewasa hanya lebih mahir berpura-pura.
Pangeran Kecil mengartikulasikan hal itu dengan kalimat ringkas yang bersayap: "Dasar kalian orang dewasa!"
Saya ingat keduanya, khususnya Peter Pan, terutama karena ingatan saya tentang sepakbola Indonesia memang kadung dibayangi oleh berbagai hal suram, gelap dan menyedihkan. Agak "ngeri-ngeri sedap" membayangkan timnas U-19 ini akhirnya akan masuk untuk kemudian terhisap oleh sistem sepakbola nasional yang korup, penuh kongkalikong, sarat politisasi, dan dikelola oleh pengurus yang inkompeten.
Tidak perlu terlalu banyak dibahas lagi paradoks sepakbola Indonesia yang penuh prestasi di level usia dini tapi tak bergema apa-apa di level senior. Tak terbilang kita punya anak-anak dan remaja berbakat tapi seperti menguap begitu saja setelah mereka beranjak dewasa. Bukan hal istimewa jika dulu kita bisa menjuarai Piala Pelajar Asia.
Tapi sulit benar mengkonversi trofi di usia muda itu jadi piala di masa dewasa. Di tahun 1990an, kita punya remaja-remaja penuh harapan seperti Kurniawan, Bima Sakti, Anang Ma'ruf, Asep Dayat, Aples Tecuari, dkk. Kita semua tahu, kerlip cahaya yang berpendaran di kaki-kaki remaja itu makin lama makin redup seiring mereka beranjak dewasa.
Dalam hal sepakbola Indonesia, setidaknya bertahun-tahun lamanya, usia dewasa lebih sering identik dengan kerusuhan, penganiayan pada wasit, perkelahian antarpemain, tekel-tekel horor, isu suap, skandal dengan artis, kasak-kusuk dunia malam, juga kooptasi oleh para politisi. Makin dewasa, kok ya makin tak sedap rasanya.
Sumber:
http://sport.detik.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar